Nelly Anna bersama Evalina Herawati, Novita Anggraini, Jajang Sutiawan, Bagastha Olky Narsiga Bangun, dan Lastrisa Desfa Banjarnahor, tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara, turun langsung ke kebun warga untuk membuktikan sendiri apakah pohon jabon yang ditanam berdampingan dengan kopi benar benar tumbuh lebih kerdil dan kayunya lebih buruk seperti yang selama ini dikhawatirkan. Jabon sendiri bukan pohon asing bagi masyarakat, sebab pohon asli Indonesia ini terkenal cepat besar dan kayunya laku dijadikan bahan baku kayu lapis, mebel, hingga peti kemas, bahkan getah dan daunnya sejak dulu dipakai sebagai obat tradisional oleh warga di berbagai daerah.
Melalui penelitian berjudul “Growth and Wood Physical Properties of Neolamarckia cadamba (Jabon) under Agroforestry System”, tim peneliti mengamati pertumbuhan 161 pohon jabon berusia 13 tahun yang ditanam berdampingan dengan tanaman kopi pada jarak tanam 3×3 meter. Pola tanam ini merepresentasikan sistem agroforestri yang telah lama diterapkan oleh masyarakat di berbagai daerah, sebagai upaya memadukan produksi hasil hutan dan pertanian secara berkelanjutan. Tiga batang di antaranya bahkan rela ditebang demi diteliti lebih dalam, dibelah dari pangkal hingga ujung, dari inti kayu di tengah sampai kulit terluarnya, untuk mengetahui persis bagaimana kualitas kayunya di setiap bagian batang. Kerja lapangan sebesar ini jelas bukan pekerjaan semalam, melainkan buah dari kesabaran dan ketelitian yang jarang dijumpai, sebuah bentuk dedikasi yang pantas diacungi jempol.
Hasilnya melegakan sekaligus membanggakan bagi siapa pun yang selama ini mengandalkan jabon sebagai sumber penghasilan. Dalam usia tiga belas tahun, jabon di kebun campuran ini rata rata sudah setinggi delapan belas meter dengan diameter batang tiga puluh enam sentimeter, sebuah pencapaian yang solid dan sehat, tidak kalah dibanding jabon yang ditanam sendirian tanpa tetangga tanaman lain. Kebanyakan pohon bahkan tumbuh seragam pada kelas tinggi dan besar yang sama, tanda bahwa pertumbuhannya memang stabil dan bukan sekadar untung untungan pada beberapa batang saja. Lahan tempat penelitian ini berlangsung memang tergolong bersahabat, dengan suhu udara yang sejuk, curah hujan yang cukup, dan tanah yang subur, kondisi yang lazim ditemui di banyak kebun rakyat di Sumatera Utara.
Peneliti tidak berhenti hanya mengukur tinggi dan besar batang, melainkan membedah kayunya sampai ke seratnya untuk mengetahui seberapa bagus mutunya. Mereka menemukan bahwa bagian pangkal batang menyimpan lebih banyak air dibanding bagian ujung, sementara kepadatan kayunya justru sebaliknya, lebih padat dan berat di bagian ujung ketimbang di pangkal. Temuan sederhana ini ternyata sangat berguna bagi para pengrajin dan industri kayu, sebab mereka jadi tahu persis bagian mana dari batang jabon yang paling cocok dipakai untuk kebutuhan tertentu, misalnya bagian yang lebih padat bisa diprioritaskan untuk produk yang membutuhkan kekuatan lebih, sementara bagian lainnya tetap bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang tidak terlalu menuntut kekuatan tinggi.
Kabar baiknya, hasil pengujian menunjukkan mutu kayu jabon dari kebun campuran ini tetap berada dalam rentang yang layak untuk industri, setara dengan jabon yang ditanam sendirian tanpa tanaman pendamping. Artinya, kekhawatiran bahwa menanam kopi di sela sela jabon akan merusak kualitas kayunya, terbukti tidak berdasar. Tim peneliti bahkan menemukan sesuatu yang cukup masuk akal namun baru kali ini dibuktikan langsung pada jabon di lahan campuran, yaitu pohon yang tumbuh sangat cepat cenderung memiliki kayu yang sedikit lebih ringan, sebab kayunya masih tergolong muda dan belum sepadat kayu yang tumbuh lebih perlahan, sebuah catatan kecil yang justru menambah kepercayaan pada kejujuran hasil penelitian ini.
Bagi petani, temuan ini membawa kabar yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari hari dibanding sekadar angka di jurnal ilmiah. Menanam kopi dan jabon berdampingan berarti keluarga petani bisa memetik hasil kopi setiap tahun untuk kebutuhan hidup sehari hari, sambil menabung batang jabon yang kelak bisa dijual sebagai investasi besar puluhan tahun kemudian, tanpa perlu khawatir kualitas kayunya akan mengecewakan saat waktunya tiba untuk dipanen. Pola tanam semacam ini juga menjaga tanah tetap lembap dan subur berkat akar ganda dari kedua tanaman, sehingga kebun tidak mudah longsor atau kering, dan yang tak kalah penting, petani tidak perlu membuka hutan baru demi menanam kayu karena kebutuhan itu sudah bisa dipenuhi dari kebun campuran yang sama.
Penelitian yang terbit di Asian Journal of Forestry ini pada akhirnya bukan sekadar laporan ilmiah yang berhenti di rak perpustakaan kampus, melainkan kabar baik yang bisa langsung dipakai petani di lapangan untuk mengambil keputusan lebih percaya diri soal lahannya sendiri. Ketekunan tim Nelly Anna dan rekan rekannya menyusuri setiap segmen batang, menimbang setiap sampel kayu, dan menganalisis setiap angka dengan cermat, adalah wujud kerja ilmiah yang benar benar berpihak pada masyarakat kecil. Di tengah kekhawatiran akan hutan yang semakin menyusut, riset dari Universitas Sumatera Utara menghadirkan jalan tengah yang menenangkan, bahwa petani tidak perlu memilih antara kopi atau kayu, sebab keduanya bisa tumbuh bersama, saling menguatkan, dan sama sama membawa berkah bagi keluarga yang merawatnya.